{"id":180,"date":"2017-12-18T11:10:34","date_gmt":"2017-12-18T03:10:34","guid":{"rendered":"http:\/\/rahmat.setyaji.com\/?p=180"},"modified":"2017-12-18T11:17:48","modified_gmt":"2017-12-18T03:17:48","slug":"kualitas-pribadi-seorang-auditor-internal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rahmat.setyaji.com\/en\/kualitas-pribadi-seorang-auditor-internal\/","title":{"rendered":"Kualitas Pribadi seorang Auditor Internal"},"content":{"rendered":"<div id=\"stcpDiv\" style=\"text-align: justify;\">\n<p><span style=\"color: #0000ff;\"><strong><span style=\"font-size: 12px;\"><em>Artikel ini bersumber dari web utama saya di http:\/\/setyaji.com. Berhubung ada rencana redesign website, ya udah saya bawa ke mari aja ya..selamat membaca<\/em><\/span><\/strong><\/span><\/p>\n<p>Auditor internal yang kompeten paling tidak harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:<\/p>\n<p><strong>Sifat Ingin Mengetahui<\/strong><\/p>\n<p>Tertarik pada semua jenis operasi secara utuh. Menanyakan pertanyaan seperti: \u201cApa yang sebenarnya divisi itu sedang lakukan? Kegiatan tersebut bertujuan apa ? Bagaimana kaitan kerja divisi tersebut dengan kerja unit-unit lain ? Apakah ada cara yang lebih baik dan lebih cepat ?<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-185 alignright\" src=\"http:\/\/rahmat.setyaji.com\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/Auditor-Internal-300x170.png\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"170\" srcset=\"https:\/\/rahmat.setyaji.com\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/Auditor-Internal-300x170.png 300w, https:\/\/rahmat.setyaji.com\/wp-content\/uploads\/sites\/5\/Auditor-Internal.png 400w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/>Auditor harus peka terhadap persoalan yang sedang terjadi dalam organisasi di semua tingkatan. Auditor harus berusaha agar seluruh pihak mau terbuka tentang segala hal yang terkait dengan ruang lingkup auditnya.<\/p>\n<p><strong>Ketekunan<\/strong><strong> dan Keteguhan Hati<\/strong><\/p>\n<p>Melakukan investigasi sampai tuntas, hingga seluruh kedalaman situasi dan permasalahan secara penuh dimengerti. Auditor harus mencoba terus, jika perlu, auditor dapat memodifikasi program dan langkah-langkahnya untuk mencapai tujuannya. Auditor harus melakukan pengujian, pemeriksaan, analisa dan lainnya, sampai auditor memiliki keyakinan yang memadai atas keterangan yang diperolehnya.<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<blockquote><p>Tujuan auditor adalah membantu pihak organisasi. Suatu temuan dianggap sebagai pedoman untuk perbaikan di masa yang akan datang.<\/p><\/blockquote>\n<p><strong>Pendekatan Yang Membangun <\/strong><\/p>\n<p>Melihat masalah-masalah yang tampaknya salah sebagai kunci awal untuk membuka rahasia atau tanda (konteks : mencari <em>clues<\/em><em>,<\/em> bukan identifikasi tindakan kriminal\/<em>crimes<\/em>).<\/p>\n<p>Auditor harus memandang suatu temuan sebagai sesuatu yang harus diselesaikan atau disempurnakan bukan sebagai suatu kejahatan. Auditor harus ikut memikirkan agar temuan tersebut nantinya dapat dihindarkan. Suatu temuan dianggap sebagai pedoman untuk perbaikan di masa yang akan datang.<\/p>\n<p><strong>Naluri dan Pemahaman <\/strong><strong>Kewirausahaan <\/strong><\/p>\n<p>Menelaah setiap hal dari pandangan yang luas dan meninjau akibatnya pada operasi organisasi secara utuh.<\/p>\n<p>Auditor menelaah semua pengaruh yang terjadi terhadap efisiensi dan efektifitas kegiatan organisasi. Dalam menetapkan penilaian terhadap suatu bidang tertentu, auditor harus selalu mengingat pola hubungan dari masing-masing kegiatan satu sama lain dan terhadap kegiatan organisasi secara keseluruhan. Dalam proses analisa, selalu digunakan perspektif secara luas, bukan secara sempit.<\/p>\n<p><strong>Kerjasama <\/strong><\/p>\n<p>Memandang auditansebagai mitra. Tujuannya bukan untuk mencari kesalahan semata, akan tetapi untuk memperbaiki operasi organisasi.<\/p>\n<p>Tujuan auditor adalah membantu pihak organisasi. Titik perhatian seorang auditor adalah peningkatan kinerja organisasi daripada sekedar pemberian jasa audit belaka.<\/p>\n<p><strong>Daya Imajinasi<\/strong><\/p>\n<p>Imajinasi adalah perpaduan pemikiran ide-ide baru dari bagian-bagian pengamatan yang dialami secara terpisah. Dengan ide-ide tersebut, pertanyaan atau usul yang tidak formal\/tidak mengikat dapat diajukan dan disajikan lebih lanjut.<\/p>\n<p>Auditor harus menghilangkan apa yang selalu disebut sebagai \u2018prinsip\u2019 dan \u2018standar\u2019. Standar didefinisikan sebagai \u2018apa yang diinginkan berlangsung secara ideal\u2019, tetapi\u00a0 jika terjadi penyimpangan dari standar, tidak serta merta merupakan tindakan kriminal. Penyimpangan yang terjadi merupakan pertanda harus dilakukan suatu pemeriksaan dan analisa oleh auditor, di mana pertimbangan auditor harus dibangun berdasarkan atas apa yang dianggap terbaik bagi kepentingan organisasi.<\/p>\n<p><strong>Pembelajar <\/strong><\/p>\n<p>Seorang auditor mempunyai tanggung jawab untuk pengembangan kapasitas diri. Hal ini dapat dicapai dengan : meneruskan studi formal, mengikuti pendidikan profesi, membaca dan mencoba mengimplementasikan petunjuk dari literasi yang ada.<\/p>\n<p>&#8211; See more at: http:\/\/keuanganlsm.com\/kualitas-pribadi-seorang-auditor-internal\/#sthash.4UVI0xgo.dpuf<\/p>\n<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Artikel ini bersumber dari web utama saya di http:\/\/setyaji.com. Berhubung ada rencana redesign website, ya udah saya bawa ke mari aja ya..selamat membaca Auditor internal yang kompeten paling tidak harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Sifat Ingin Mengetahui Tertarik pada semua jenis operasi secara utuh. Menanyakan pertanyaan seperti: \u201cApa yang sebenarnya divisi itu sedang lakukan? Kegiatan\u2026 <span class=\"read-more\"><a href=\"https:\/\/rahmat.setyaji.com\/en\/kualitas-pribadi-seorang-auditor-internal\/\">Read More &raquo;<\/a><\/span><\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-180","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-auditing"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rahmat.setyaji.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/180","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/rahmat.setyaji.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rahmat.setyaji.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmat.setyaji.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmat.setyaji.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=180"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/rahmat.setyaji.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/180\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rahmat.setyaji.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=180"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmat.setyaji.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=180"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rahmat.setyaji.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=180"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}